Festival Malang Kembali atau yang biasa disebut Malang Tempoe Doeloe ke VI Tahun 2011 akan digelar di sepanjang Jalan Ijen pada tanggal 19 -22 Mei 2011
malang-kembali-vi-4Tahun ini adalah tahun ke enam dari Festival Malang Kembali atau Malang Tempo Doeloe. Seperti tahun-tahun kemarin festival ini akan kembali diadakan di sepanjang jalan Ijen. Festival Malang Kembali pada tahun ini diharapkan dapat membawa perubahan dan merubah pandangan orang bahwa festival ini hanya sekedar pasar malam yang rutin setiap tahun diadakan. Festival Malang Kembali tahun ini akan mengusung tema Discovering Heritage.
Festival Malang Kembali VI kali ini akan mengangkat tema “Kembalinya Kebanggaan Berbusana Tradisi“
malang-kembali-vi-1Diharapkan dengan festival ini, pengunjung yang datang tidak hanya sekedar datang, foto-foto, makan-makan tetapi juga memperoleh informasi sejarah kota Malang. Dari info yang didapat, kemungkinan besar akan banyak sekali perubahan dalam penyelenggaraan Festival Malang Kembali, diantaranya adalah penataan stan menurut jenis-jenisnya yang nanti akan dibagi menjadi pasar pon yang menjadi pusat kerajinan, pasar pahing yang menjadi pusat batik, pasar kliwon sebagai tempat pasar barang antik dan unik, juga ada pasar pahing dan pasar legi.
Sehingga sepanjang jalan tetap akan diwarnai dengan pasar namun yang bernuansa pendidikan. Jumlah stan menurut rencana juga akan dikurangi, jika tahun lalu ada 500 stan, tahun ini kemungkinan hanya sekitar 400 stan saja.
Dengan adanya perubahan tersebut, diharapkan pengunjung mendapat pengalaman yang berbeda dari tahun-tahun penyelengaraan yang lalu.
Adapun Denah Lokasi Pelaksanaan Malang Tempoe Doeloe seperti tampak pada gambar di bawah ini:
Denah Festival Malng Kembali VIDalam Malang Tempoe Doeloe VI tahun 2011 ini juga disediakan TOUR GRATIS TAK OESAH BAJAR bagi Pengunjung Hotel yang berada di Kota Malang.
Showing posts with label wisata sejarah. Show all posts
Showing posts with label wisata sejarah. Show all posts
Sunday, May 15
Thursday, January 27
Candi Singosari
Candi Singosari sebenarnya merupakan contoh sebuah bangunan candi yang
belum sepenuhnya selesai dikerjakan Meskipun demikian, pada candi ini tersimpan suatu
karya seni yang tinggi, terutama seni arca. Di candi inilah ditemukan puncak kesenian
Indonesia purba.
Candi Singosari terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten
Malang, Jawa Timur. Berdiri megah di sebuah lembah di antara Gunung Bromo dan
Gunung Arjuna pada ketinggian sekitar +500 meter d.p.l.
Nama candi ini disebut-sebut dalam Kitab Nagarakertagama Pupuh 37:7 dan
38:3, juga dalam Prasasti Gajah Mada (1351 Masehi) yang ditemukan di halaman candi,
sebagai tempat pendharmaan raja Singhasari terakhir yang wafat pada tahun 1292 Masehi.
Bangunan candi terletak pada sebuah kompleks yang luasnya sekitar 8 hektar
(200 x 400 meter. Di dalam kompleks itu terdapat juga sisa fondasi bangunan, runtuhan
bangunan Candi Papak dan Candi Ringgit, dan sejumlah arca batu. Candi Papak dan Candi
Ringgit letaknya sekitar 300 meter ke arah baratdaya Candi Singosari.
Apabila kita menuju ke Singosari dari arah baratlaut, di sebelah kiri dan kanan
jalan masuk, ditemukan sepasang arca raksasa yang tingginya 3,70 meter. Dekat kedua
arca itu terdapat sebidang tanah lapang yang disebut alun-alun.
Dengan ditemukannya dua arca raksasa
di dekat alun-alun, beberapa pakar menduga
bahwa daerah itu dulunya merupakan
pusat kerajaan Singhasari. Arca raksasa
biasanya ditempatkan dekat dengan keraton
atau dekat pintu masuk halaman candi.
Konon, ketika arca itu hendak diangkat untuk
ditempatkan pada lantai beton, arca itu tidak
dapat diangkat. Tetapi di malam hari, barulah
arca itu dapat diangkat dan dipindahkan. Oleh
sebab itu, ketika akan diangkat pada siang
hari, mata arca tersebut ditutup dengan kain.
Candi Singosari ditemukan pada awal abad ke-20 dalam keadaan sudah rusak,
terutama pada bagian puncak atap menara. Pada tahun 1934 candi itu mulai dipugar. Untuk
keperluan itu, candi tersebut dibongkar sampai ke bagian kakinya, kemudian dibangun
kembali selapis demi selapis. Karena bagian yang hilang cukup banyak, perbaikan jadi
tidak sempurna. Candi itu hanya dapat dibangun kembali sampai atap tingkat dua.
Pembangunan kembali hingga mendapatkan bentuk yang seperti sekarang kita lihat selesai
tahun 1936.
Bangunan Candi Singosari seluruhnya dibuat dari batu andesit dengan arah
hadapnya ke barat. Denahnya berbentuk bujursangkar dengan ukuran 14 x 14 meter dan
tinggi 15 meter. Bangunan ini terdiri atas tingkat yang terbawah atau batur, kaki-candi
yang tinggi, tubuh yang langsing, dan bagian atap yang berbentuk limas. Kaki-candi
dibangun di atas batur yang tingginya 2 meter. Di atas batur itu yang tinggi itu berdiri kaki
candi yang dibuat cukup tinggi. Pada bagian kaki candi itulah terdapat bilik-bilik candi dan
bangunan penampilnya. Pada bangunan penampil yang ada pada masing-masing sisi
terdapat relung untuk menempatkan arca. Relung ini bagian atasnya terdapat hiasan kepala
kala yang belum selesai dikerjakan. Bangunan penampil biasanya terdapat pada bagian
tubuh.
Bangunan penampil yang ditemukan pada keempat sisi juga terdapat pada bagian
tubuh candi. Namun relung yang terdapat pada bagian tubuh ini berukuran lebih kecil dan
tidak terlalu dalam. Di bagian atas relung juga terdapat hiasan kepala kala. Hiasan kala
yang terdapat di sini telah selesai dikerjakan.
Dari undak-undak sisi barat, dapat dicapai bagian atas batur yang merupakan selasar
untuk mengelilingi kaki candi. Undak-undak itu berhubungan dengan bangunan
penampil dan bilik tengah (ruang utama) candi. Di dalam bilik tengah itu terdapat lingga
dan yoni. Di bagian bawah lantai bilik tengah terdapat sistem parit. Di sebelah kiri dan
kanan jalan masuknya terdapat relung-relung kecil yang di dalamnya terdapat arca
Mahakala dan Nandiswara. Bilik-bilik lain yang dapat dimasuki melalui selasar keliling
pada batur, dulunya berisi arca Durga (bilik utara), Ganesa (bilik timur), dan Siwa-Guru
(bilik selatan). Arca Durga dan Ganesa sudah hilang, sedangkan arca Siwa-Guru masih
ada.
Candi Singosari dulunya tidak berdiri
sendiri. Di sebelah selatan masih di dalam
lingkungan candi terdapat sebuah batur fondasi.
Mungkin di atas batur itu terdapat
bangunan kecil yang dibuat dari bahan yang
mudah rusak. Pada salah satu bangunan candi
yang terdapat di dalam kompleks percandian
terdapat arca Prajñaparamita, dewi kebijaksanaan
dalam agama Buddha, yang sekarang
disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Arcaarca
lain yang ditemukan dari runtuhan bangunan
yang terdapat di sekitar Candi Singosari
adalah arca Ganesa, Chakrachakra (Bhairawa),
Brahma, Trnawindu, dan Agastya.
Arca Durgamahisasuramardini.
Chakrachakra adalah nama yang terdapat pada bagian belakang arca dalam
bentuk Bhairawa ini, Siwa dalam bentuk sedang marah. Nama lengkapnya mungkin
Chakrachakreswara, sesosok dewa yang berdiri di atas srigala dengan tangannya
memegang tombak bermata tiga, pisau besar, gendang tangan (moko ?), dan tengkorak
manusia. Bagian badannya penuh dengan hiasan tengkorak manusia.
Sayang hingga kini seluruh arca, kecuali arca Prajñaparamita, masih berdomisili
di negara lain, yakni di Royal Tropical Institute, Belanda, sehingga hanya kalangan
tertentu yang dapat menikmatinya. Itupun hanya melalui foto. Padahal arca itu merupakan
hasil karya seni yang tinggi yang layak menjadi kebanggaan seluruh bangsa Indonesia.
Paling tidak, arca-arca itu dapat menambah kejelasan bahwa Candi Singosari memang
sebuah tempat pendharmaan bagi Raja Kertanagara.
belum sepenuhnya selesai dikerjakan Meskipun demikian, pada candi ini tersimpan suatu
karya seni yang tinggi, terutama seni arca. Di candi inilah ditemukan puncak kesenian
Indonesia purba.
Candi Singosari terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten
Malang, Jawa Timur. Berdiri megah di sebuah lembah di antara Gunung Bromo dan
Gunung Arjuna pada ketinggian sekitar +500 meter d.p.l.
Nama candi ini disebut-sebut dalam Kitab Nagarakertagama Pupuh 37:7 dan
38:3, juga dalam Prasasti Gajah Mada (1351 Masehi) yang ditemukan di halaman candi,
sebagai tempat pendharmaan raja Singhasari terakhir yang wafat pada tahun 1292 Masehi.
Bangunan candi terletak pada sebuah kompleks yang luasnya sekitar 8 hektar
(200 x 400 meter. Di dalam kompleks itu terdapat juga sisa fondasi bangunan, runtuhan
bangunan Candi Papak dan Candi Ringgit, dan sejumlah arca batu. Candi Papak dan Candi
Ringgit letaknya sekitar 300 meter ke arah baratdaya Candi Singosari.
Apabila kita menuju ke Singosari dari arah baratlaut, di sebelah kiri dan kanan
jalan masuk, ditemukan sepasang arca raksasa yang tingginya 3,70 meter. Dekat kedua
arca itu terdapat sebidang tanah lapang yang disebut alun-alun.
Dengan ditemukannya dua arca raksasa
di dekat alun-alun, beberapa pakar menduga
bahwa daerah itu dulunya merupakan
pusat kerajaan Singhasari. Arca raksasa
biasanya ditempatkan dekat dengan keraton
atau dekat pintu masuk halaman candi.
Konon, ketika arca itu hendak diangkat untuk
ditempatkan pada lantai beton, arca itu tidak
dapat diangkat. Tetapi di malam hari, barulah
arca itu dapat diangkat dan dipindahkan. Oleh
sebab itu, ketika akan diangkat pada siang
hari, mata arca tersebut ditutup dengan kain.
Candi Singosari ditemukan pada awal abad ke-20 dalam keadaan sudah rusak,
terutama pada bagian puncak atap menara. Pada tahun 1934 candi itu mulai dipugar. Untuk
keperluan itu, candi tersebut dibongkar sampai ke bagian kakinya, kemudian dibangun
kembali selapis demi selapis. Karena bagian yang hilang cukup banyak, perbaikan jadi
tidak sempurna. Candi itu hanya dapat dibangun kembali sampai atap tingkat dua.
Pembangunan kembali hingga mendapatkan bentuk yang seperti sekarang kita lihat selesai
tahun 1936.
Bangunan Candi Singosari seluruhnya dibuat dari batu andesit dengan arah
hadapnya ke barat. Denahnya berbentuk bujursangkar dengan ukuran 14 x 14 meter dan
tinggi 15 meter. Bangunan ini terdiri atas tingkat yang terbawah atau batur, kaki-candi
yang tinggi, tubuh yang langsing, dan bagian atap yang berbentuk limas. Kaki-candi
dibangun di atas batur yang tingginya 2 meter. Di atas batur itu yang tinggi itu berdiri kaki
candi yang dibuat cukup tinggi. Pada bagian kaki candi itulah terdapat bilik-bilik candi dan
bangunan penampilnya. Pada bangunan penampil yang ada pada masing-masing sisi
terdapat relung untuk menempatkan arca. Relung ini bagian atasnya terdapat hiasan kepala
kala yang belum selesai dikerjakan. Bangunan penampil biasanya terdapat pada bagian
tubuh.
Bangunan penampil yang ditemukan pada keempat sisi juga terdapat pada bagian
tubuh candi. Namun relung yang terdapat pada bagian tubuh ini berukuran lebih kecil dan
tidak terlalu dalam. Di bagian atas relung juga terdapat hiasan kepala kala. Hiasan kala
yang terdapat di sini telah selesai dikerjakan.
Dari undak-undak sisi barat, dapat dicapai bagian atas batur yang merupakan selasar
untuk mengelilingi kaki candi. Undak-undak itu berhubungan dengan bangunan
penampil dan bilik tengah (ruang utama) candi. Di dalam bilik tengah itu terdapat lingga
dan yoni. Di bagian bawah lantai bilik tengah terdapat sistem parit. Di sebelah kiri dan
kanan jalan masuknya terdapat relung-relung kecil yang di dalamnya terdapat arca
Mahakala dan Nandiswara. Bilik-bilik lain yang dapat dimasuki melalui selasar keliling
pada batur, dulunya berisi arca Durga (bilik utara), Ganesa (bilik timur), dan Siwa-Guru
(bilik selatan). Arca Durga dan Ganesa sudah hilang, sedangkan arca Siwa-Guru masih
ada.
Candi Singosari dulunya tidak berdiri
sendiri. Di sebelah selatan masih di dalam
lingkungan candi terdapat sebuah batur fondasi.
Mungkin di atas batur itu terdapat
bangunan kecil yang dibuat dari bahan yang
mudah rusak. Pada salah satu bangunan candi
yang terdapat di dalam kompleks percandian
terdapat arca Prajñaparamita, dewi kebijaksanaan
dalam agama Buddha, yang sekarang
disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Arcaarca
lain yang ditemukan dari runtuhan bangunan
yang terdapat di sekitar Candi Singosari
adalah arca Ganesa, Chakrachakra (Bhairawa),
Brahma, Trnawindu, dan Agastya.
Arca Durgamahisasuramardini.
Chakrachakra adalah nama yang terdapat pada bagian belakang arca dalam
bentuk Bhairawa ini, Siwa dalam bentuk sedang marah. Nama lengkapnya mungkin
Chakrachakreswara, sesosok dewa yang berdiri di atas srigala dengan tangannya
memegang tombak bermata tiga, pisau besar, gendang tangan (moko ?), dan tengkorak
manusia. Bagian badannya penuh dengan hiasan tengkorak manusia.
Sayang hingga kini seluruh arca, kecuali arca Prajñaparamita, masih berdomisili
di negara lain, yakni di Royal Tropical Institute, Belanda, sehingga hanya kalangan
tertentu yang dapat menikmatinya. Itupun hanya melalui foto. Padahal arca itu merupakan
hasil karya seni yang tinggi yang layak menjadi kebanggaan seluruh bangsa Indonesia.
Paling tidak, arca-arca itu dapat menambah kejelasan bahwa Candi Singosari memang
sebuah tempat pendharmaan bagi Raja Kertanagara.
Posted by
scoot
Friday, January 21
Gunung Kawi 2
Wisata Malang
Eyang Jugo atau Kyai Zakaria II dan Eyang Sujo atau Raden Mas Iman Sudjono adalah bhayangkara terdekat Pangeran Diponegoro. Pada tahun 1830 saat perjuangan terpecah belah oleh
siasat kompeni, dan Pangeran Diponegoro tertangkap kemudian diasingkan ke Makasar, Eyang Jugo dan Eyang Sujo mengasingkan diri ke wilayah Gunung Kawi ini.
Semenjak itu mereka berdua tidak lagi berjuang dengan mengangkat senjata, tetapi mengubah perjuangan melalui pendidikan. Kedua mantan bhayangkara balatentara Pangeran Diponegoro ini, selain berdakwah agama islam dan mengajarkan ajaran moral kejawen, juga mengajarkan cara bercocok tanam, pengobatan, olah kanuragan serta ketrampilan lain yang berguna bagi penduduk setempat. Perbuatan dan karya mereka
sangat dihargai oleh penduduk di daerah tersebut, sehingga banyak masyarakat dari daerah kabupaten Malang dan Blitar datang ke padepokan mereka untuk menjadi murid atau pengikutnya.
Setelah Eyang Jugo meninggal tahun 1871, dan menyusul Eyang Iman Sujo tahun 1876, para murid dan pengikutnya tetap menghormatinya. Setiap tahun, para keturunan, pengikut dan juga para peziarah lain datang ke makam mereka umtuk melakukan peringatan. Setiap malam Jumat Legi, malam meninggalnya Eyang Jugo, dan juga peringatan wafatnya Eyang Sujo etiap tanggal 1 bulan Suro (muharram), di tempat ini selalu diadakan erayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya. Upacara ini iasanya dipimpin oleh juru kunci makam yang masih merupakan para keturunan Eyang Sujo.
Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun para peziarah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja, mereka berjalan dengan lutut.
Hingga dewasa ini pesarean tersebut telah banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka bukan saja berasal dari daerah Malang, Surabaya, atau daerah lain yang berdekatan dengan lokasi pesarean, tetapi juga dari berbagai penjuru tanah air.
Heterogenitas pengunjung seperti ini mengindikasikan bahwa
sosok kedua tokoh ini adalah tokoh yang kharismatik dan populis.Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini pun sangat beragam pula.
Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum adalah kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul.
Dari berbagai sumber
Eyang Jugo atau Kyai Zakaria II dan Eyang Sujo atau Raden Mas Iman Sudjono adalah bhayangkara terdekat Pangeran Diponegoro. Pada tahun 1830 saat perjuangan terpecah belah oleh
siasat kompeni, dan Pangeran Diponegoro tertangkap kemudian diasingkan ke Makasar, Eyang Jugo dan Eyang Sujo mengasingkan diri ke wilayah Gunung Kawi ini.
Semenjak itu mereka berdua tidak lagi berjuang dengan mengangkat senjata, tetapi mengubah perjuangan melalui pendidikan. Kedua mantan bhayangkara balatentara Pangeran Diponegoro ini, selain berdakwah agama islam dan mengajarkan ajaran moral kejawen, juga mengajarkan cara bercocok tanam, pengobatan, olah kanuragan serta ketrampilan lain yang berguna bagi penduduk setempat. Perbuatan dan karya mereka
sangat dihargai oleh penduduk di daerah tersebut, sehingga banyak masyarakat dari daerah kabupaten Malang dan Blitar datang ke padepokan mereka untuk menjadi murid atau pengikutnya.
Setelah Eyang Jugo meninggal tahun 1871, dan menyusul Eyang Iman Sujo tahun 1876, para murid dan pengikutnya tetap menghormatinya. Setiap tahun, para keturunan, pengikut dan juga para peziarah lain datang ke makam mereka umtuk melakukan peringatan. Setiap malam Jumat Legi, malam meninggalnya Eyang Jugo, dan juga peringatan wafatnya Eyang Sujo etiap tanggal 1 bulan Suro (muharram), di tempat ini selalu diadakan erayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya. Upacara ini iasanya dipimpin oleh juru kunci makam yang masih merupakan para keturunan Eyang Sujo.
Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun para peziarah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja, mereka berjalan dengan lutut.
Hingga dewasa ini pesarean tersebut telah banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka bukan saja berasal dari daerah Malang, Surabaya, atau daerah lain yang berdekatan dengan lokasi pesarean, tetapi juga dari berbagai penjuru tanah air.
Heterogenitas pengunjung seperti ini mengindikasikan bahwa
sosok kedua tokoh ini adalah tokoh yang kharismatik dan populis.Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini pun sangat beragam pula.
Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum adalah kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul.
Dari berbagai sumber
Posted by
scoot
Gunung Kawi
Siapa yang tak mengenal gunung Kawi...? menurut sebagian orang gunung kawi dianggap tempat yang sangat keramat, dan tempat untuk mendapatkan pesugihan. Banyak warga keturunan yang datang untuk mengunjungi Gunung tersebut.
biasanya lonjakan pengunjung terjadi pada hari jum'at legi(hari pemakaman eyang Yugo) dan tanggal 12 suro(wafat nya eyang Yugo).
Biasanya Ritual dilakukan dengan cara membakar dupa, menyembelih ayam, kambing atau sapi,dan juga bersemedi berjam-jam, berhari-hari, bahkan sampai berbulan-bulan.
Saat berada di dalam bangunan makam, pengunjung tidak boleh memikirkan sesuata yang tidak baik.pengunjung harus suci lahir dan batin sebelum berdoa.
selain pesarean terdapat pula tempat-tempat yang bnyak dikunjungi karena di keramatkan,dan mempunyai kekuatan magis, yang dipercaya dapat mendatangkan keberuntungn.
Diantaranya adalah:
1.Rumah padepokan eyang Sujo
padepokan ini pertama di kuasakan kepada pengikut terdekat eyang Sujo yaitu ki maridun.yang di dalam nya terdapat bantal dan guling yang terbuat dari batang pohon kelapa,serta tombsk pusaka semasa perang Diponegoro.
2.Guci kuno
dua buah guci ini dulu di pergunkan untuk menyimpan air suci untuk pengobatan.masyarakat menyebut nya dengan "janjam"
masyarakat percaya dengan meminum air dalam guci tersebut akan membuat awet muda.
3.Pohon dewandaru.
pohon ini terdapat diarea pemakaman.pohon ini disebut pohon dewandaru/kesabaran.pohon ini termasuk jenis cerme belanda,oleh orang Tionghoa dianggap sebagai SHian-to atau pohon Dewa.dhulu pohon ini ditanam untuk menandakan bahwa tempat di daerah sini aman.
untuk mendapatkan simbol perantara kekayan,peziarah menunggu daun, buah atau dahan yang jatuh.begitu mendapatkan nya peziarah akan membungkus dengan uang untuk dijadikan azimat.apabila harapan mereka terkabul maka mereka akan kembali untuk melakukan syukuran.
lalu siapakah sebenarnya Eyang jugo dan eyang Sujo???
Posted by
scoot
Wednesday, January 19
Candi Kidal 2
Anusapati - Sang Garuda Yang Berbakti
Bathara Anusapati menjadi raja
Selama pemerintahannya tanah Jawa kokoh sentosa
Tahun caka Perhiasan Gunung Sambu (1170 C - 1248 M) beliau berpulang ke Siwabudaloka
Cahaya beliau diwujudkan arca Siwa gemilang di candi Kidal
(Nagarakretagama : pupuh 41 / bait 1, Slamet Mulyono)
Demikianlah penggalan kitab Negarakretagama, sebuah kakawin kaya raya informasi tentang kerajaan Majapahit dan Singosari, berkaitan dengan raja Singosari ke-2, Anusapati, beserta tempat pendharmaannya di candi Kidal.
Dirunut dari usianya, Candi Kidal merupakan candi tertua dari peninggalan candi-candi periode Jawa Timur pasca Jawa Tengah (abad ke-5 – 10 M). Hal ini karena periode Mpu Sindok (abad X M), Airlangga (abad XI M) dan Kediri (abad XII M) sebelumnya tidak meninggalkan sebuah candi, kecuali Candi Belahan (Gempol) dan Jolotundo (Trawas) yang sesungguhnya bukan merupakan candi melainkan petirtaan. Sesungguhnya ada candi yang lebih tua yakni Candi Kagenengan yang menurut versi kitab Nagarakretagama tempat di-dharma-kannya, Ken Arok, ayah tiri Anusapati. Namun sayang candi ini sampai sekarang belum pernah ditemukan.
Pada bagian kaki candi terpahatkan 3 buah relief indah yang menggambarkan cerita legenda Garudeya (Garuda). Cerita ini sangat popular dikalangan masyarakat Jawa saat itu sebagai cerita moral tentang pembebasan atau ruwatan Kesusastraan Jawa kuno berbentuk kakawin tersebut, mengisahkan tentang perjalanan Garuda dalam membebaskan ibunya dari perbudakan dengan penebusan air suci amerta.
Cerita ini juga ada pada candi Jawa Timur yang lain yakni di candi Sukuh (lereng utara G. Lawu). Cerita Garuda sangat dikenal masyarakat pada waktu berkembang pesat agama Hindu aliran Waisnawa (Wisnu) terutama pada periode kerajaan Kahuripan dan Kediri. Sampai-sampai Airlangga, raja Kahuripan, setelah meninggal diujudkan sebagai dewa Wisnu pada candi Belahan dan Jolotundo, dan patung Wisnu diatas Garuda paling indah sekarang masih tersiumpan di museum Trowulan dan diduga berasal dari candi Belahan.
Narasi cerita Garudeya pada candi Kidal dipahatkan dalam 3 relief dan masing-masing terletak pada bagian tengah sisi-sisi kaki candi kecuali pintu masuk. Pembacaannya dengan cara prasawiya (berjalan berlawanan arah jarum jam) dimulai dari sisi sebelah selatan atau sisi sebelah kanan tangga masuk candi. Relief pertama menggambarkan Garuda dibawah 3 ekor ular, relief kedua melukiskan Garuda dengan kendi diatas kepalanya, dan relief ketiga Garuda menggendong seorang wanita. Diantara ketiga relief tersebut, relief kedua adalah yang paling indah dan masih utuh.
Dikisahkan bahwa Kadru dan Winata adalah 2 bersaudara istri resi Kasiapa. Kadru mempunyai anak angkat 3 ekor ular dan Winata memiliki anak angkat Garuda. Kadru yang pemalas merasa bosan dan lelah harus mengurusi 3 anak angkatnya yang nakal-nakal karena sering menghilang diantara semak-semak. Timbullah niat jahat Kadru untuk menyerahkan tugas ini kepada Winata. Diajaklah Winata bertaruh pada ekor kuda putih Uraiswara yang sering melewati rumah mereka dan yang kalah harus menurut segala perintah pemenang. Dengan tipu daya, akhirnya Kadru berhasil menjadi pemenang. Sejak saat itu Winata diperintahkan melayani segala keperluan Kadru serta mengasuh ketiga ular anaknya setiap hari. Winata selanjutnya meminta pertolongan Garuda untuk membantu tugas-tugas tersebut. (relief pertama).
Ketika Garuda tumbuh besar, dia bertanya kepada ibunya mengapa dia dan ibunya harus menjaga 3 saudara angkatnya sedangkan bibinya tidak. Setelah diceritakan tentang pertaruhan kuda Uraiswara, maka Garuda mengerti. Suatu hari ditanyakanlah kepada 3 ekor ular tersebut bagaimana caranya supaya ibunya dapat terbebas dari perbudakan ini. Dijawab oleh ular "bawakanlah aku air suci amerta yang disimpan di kahyangan serta dijaga para dewa, dan berasal dari lautan susu". Garuda menyanggupi dan segera mohon ijin ibunya untuk berangkat ke kahyangan. Tentu saja para dewa tidak menyetujui keinginan Garuda sehingga terjadilah perkelahian. Namun berkat kesaktian Garuda para dewa dapat dikalahkan. Melihat kekacauan ini Bathara Wisnu turun tangan dan Garuda akhirnya dapat dikalahkan. Setelah mendengar cerita Garuda tentang tujuannya mendapatkan amerta, maka Wisnu memperbolehkan Garuda meminjam amerta untuk membebaskan ibunya dan dengan syarat Garuda juga harus mau menjadi tungganggannya. Garuda menyetujuinya. Sejak saat itu pula Garuda menjadi tunggangan Bathara Wisnu seperti nampak pada patung-patung Wisnu yang umumnya duduk diatas Garuda. Garuda turun kembali ke bumi dengan amerta. (relief kedua).
Dengan bekal air suci amerta inilah akhirnya Garuda dapat membebaskan ibunya dari perbudakan atas Kadru. Hal ini digambarkan pada relief ketiga dimana Garuda dengan gagah perkasa menggendong ibunya dan bebas dari perbudakan. (relief ketiga)
Berbeda dengan candi-candi Jawa Tengah, candi Jawa Timuran berfungsi sebagai tempat pen-dharma-an (kuburan) raja, sedangkan candi-candi Jawa Tengah dibangun untuk memuliakan agama yang dianut raja beserta masyarakatnya. Seperti dijelaskan dalam kitab Negarakretagama bahwa raja Wisnuwardhana didharmakan di candi Jago, Kertanegara di candi Jawi dan Singosari, Hayam Wuruk di candi Ngetos, dsb.
Dalam filosofi Jawa asli, candi juga berfungsi sebagai tempat ruwatan raja yang telah meninggal supaya kembali suci dan dapat menitis kembali menjadi dewa. Ide ini berkaitan erat dengan konsep "Dewa-Raja" yang berkembang kuat di Jawa saat itu. Dan untuk menguatkan prinsip ruwatan tersebut sering dipahatkan relief-relief cerita moral dan legenda pada kaki candi, seperti pada candi Jago, Surowono, Tigowangi, Jawi, dan lain lain. Berkaitan dengan prinsip tersebut, dan sesuai dengan kitab Negarakretagama, maka candi Kidal merupakan tempat diruwatnya raja Anusapati dan dimuliakan sebagai Siwa. Sebuah patung Siwa yang indah dan sekarang masih tersimpan di museum Leiden - Belanda diduga kuat berasal dari candi Kidal. Sebuah pertanyaan, mengapa dipahatkan relief Garudeya? Apa hubungannya dengan Anusapati?.
Kemungkinan besar sebelum meninggal, Anusapati berpesan kepada keluarganya agar kelak candi yang didirikan untuknya supaya dibuatkan relief Garudeya. Dia sengaja berpesan demikian karena bertujuan meruwat ibunya, Kendedes, yang sangat dicintainya, namun selalu menderita selama hidupnya dan belum sepenuhnya menjadi wanita utama.
Dalam prasasti Mula Malurung, dikisahkan bahwa Kendedes adalah putri Mpu Purwa dari pedepokan di daerah Kepanjen Malang yang cantik jelita tiada tara. Kecantikan Ken Dedes begitu tersohor hingga akuwu Tunggul Ametung, terpaksa menggunakan kekerasan untuk dapat menjadikan dia sebagai istrinya prameswari. Setelah menjadi istri Tunggul Ametung, ternyata Ken Dedes juga menjadi penyebab kematian suaminya yang sekaligus ayah Anusapati karena dibunuh oleh Ken Arok, ayah tirinya.
Hal ini terjadi karena Ken Arok, yang secara tak sengaja ditaman Boboji kerajaan Tumapel melihat mengeluarkan sinar kemilau keluar dari aurat Kendedes. Setelah diberitahu oleh pendeta Lohgawe, bahwa wanita mana saja yang mengeluarkan sinar demikian adalah wanita ardanareswari, yakni wanita yang mampu melahirkan raja-raja besar di Jawa. Sesuai dengan ambisi Ken Arok maka diapun membunuh Tunggul Ametung serta memaksa kawin dengan Kendedes. Sementara itu setelah mengawini Kendedes, Ken Arok masih juga mengawini Ken Umang dan menurut cerita tutur Ken Arok lebih menyayangi istri keduanya dari pada Ken Dedes; Sehingga Ken Dedes diabaikan.
Berlandaskan uraian diatas, maka pemberian relief Garudeya pada candi Kidal oleh Anusapati bertujuan untuk meruwat ibunya Ken Dedes yang cantik jelita namun nestapa hidupnya. Anusapati sangat berbakti dan mencintai ibunya. Dia ingin ibunya menjadi suci kembali sebagai wanita sempurna lepas dari penderitaan dan nestapa.
Diambil dari berbagai sumber
Posted by
scoot
Monday, January 17
Candi Kidal
Candi kidal Terletak di desa kidal, kecamatan Tumpang, sekitar 20 km sebelah timur kota wisata malang Jawa Timur, candi Kidal dibangun pada 1248 M, bertepatan dengan berakhirnya rangkaian upacara pemakaman yang disebut Cradha (tahun ke-12) untuk menghormat raja Anusapati yang telah meninggal. Setelah selesai pemugaran kembali pada dekade 1990-an, candi ini sekarang berdiri dengan tegak dan kokoh serta menampakkan keindahannya. Jalan menuju ke Candi Kidal sudah bagus setelah beberapa tahun rusak berat. Di sekitar candi banyak terdapat pohon-pohon besar dan rindang, taman candi juga tertata dengan baik, ditambah lingkungan yang bernuansa pedesaan menambah suasana asri bila berkunjung kesana.
Dari daftar buku pengunjung yang ada nampak bahwa Candi Kidal tidak sepopuler “teman”-nya candi Singosari, Jago, atau Jawi. Ini diduga karena Candi Kidal terletak jauh di pedesaan, tidak banyak diulas oleh pakar sejarah, dan jarang ditulis pada buku-buku panduan pariwisata.
Namun demikian candi Kidal sesungguhnya memiliki beberapa kelebihan menarik dibanding dengan candi-candi lainnya tersebut. Candi Kidal terbuat dari batu andesit dan berdimensi geometris vertikal. Kaki candi nampak agak tinggi dengan tangga masuk keatas kecil-kecil seolah-olah bukan tangga masuk sesungguhnya. Badan candi lebih kecil dibandingkan luas kaki serta atap candi sehingga memberi kesan ramping. Pada kaki dan tubuh candi terdapat hiasan medallion serta sabuk melingkar menghiasi badan candi. Atap candi terdiri atas 3 tingkat yang semakin keatas semakin kecil dengan bagian paling atas mempunyai permukaan cukup luas tanpa hiasan atap seperti ratna (ciri khas candi Hindu) atau stupa (ciri khas candi Budha). Masing-masing tingkat disisakan ruang agak luas dan diberi hiasan. Konon tiap pojok tingkatan atap tersebut dulu disungging dengan berlian kecil.
Hal menonjol lainnya adalah kepala kala yang dipahatkan diatas pintu masuk dan bilik-bilik candi. Kala, salah satu aspek Dewa Siwa dan umumnya dikenal sebagai penjaga bangunan suci. Hiasan kepala kala Candi Kidal nampak menyeramkan dengan matanya melotot, mulutnya terbuka dan nampak dua taringnya yang besar dan bengkok memberi kesan dominan. Adanya taring tersebut juga merupakan ciri khas candi corak Jawa Timuran. Di sudut kiri dan kanannya terdapat jari tangan dengan mudra (sikap) mengancam. Maka sempurnalah tugasnya sebagai penjaga bangunan suci candi.
Di sekeliling candi terdapat sisa-sisa pondasi dari sebuah tembok keliling yang berhasil digali kembali sebagai hasil pemugaran tahun 1990-an. Terdapat tangga masuk menuju kompleks candi disebelah barat melalui tembok tersebut namun sulit dipastikan apakah memang demikian aslinya. Jika dilihat dari perspektif tanah sekeliling dengan dataran kompleks candi, nampak candi kompleks Kidal agak menjorok kedalam sekitar 1 meter dari permukaan sekarang ini. Apakah dataran candi merupakan permukaan tanah sesungguhnya akibat dari bencana alam seperti banjir atau gunung meletus tidak dapat diketahui dengan pasti.
Candi Kidal adalah salah satu candi warisan dari kerajaan Singasari. Candi ini dibangun sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar Anusapati, Raja kedua dari Singhasari, yang memerintah selama 20 tahun (1227 - 1248). Kematian Anusapati dibunuh oleh Panji Tohjaya sebagai bagian dari perebutan kekuasaan Singhasari, juga diyakini sebagai bagian dari kutukan Mpu Gandring.
Candi Kidal secara arsitektur, kental dengan budaya Jawa Timuran, telah mengalami pemugaran pada tahun 1990. Candi kidal juga memuat cerita Garudeya, cerita mitologi Hindu, yang berisi pesan moral pembebasan dari perbudakan.
Di ambil dari berbagai sumber
Posted by
scoot
Candi Jago
Asal-usul kata Candi Jago berasal dari "Jajaghu", didirikan pada masa Kerajaan Singhasari di abad ke-13.
Berlokasi di Kecamatan Tumpang, Kabupaten wisata Malang, atau sekitar 22 km dari Kota wisata Malang.Untuk menuju ke sana anda dapat menggunakan kendaraan dari Arjosari dengan menggunakan mobil angkutan jurusan Tumpang-Arjosari [TA].
Menurut cerita bagian atap dari Candi ini pernah tersambar petir,ini membuat candi ini kelihatan unik.
Di candi ini anda dapat menemui Relief-relief Kunjarakarna dan Pancatantra . Dengan keseluruhan bangunan candi ini tersusun atas bahan batu andesit. Pada candi inilah Adityawarman kemudian menempatkan Arca Manjusri seperti yang disebut pada Prasasti Manjusri. Tetapi Sekarang Arca ini tersimpan di Museum Nasional dengan nomor
Arsitektur Candi Jago disusun seperti teras punden berundak. Keseluruhannya memiliki panjang 23,71 m, lebar 14 m, dan tinggi 9,97 m. Bangunan Candi Jago nampak sudah tidak utuh lagi; yang tertinggal pada Candi Jago hanyalah bagian kaki dan sebagian kecil badan candi.
Badan candi disangga oleh tiga buah teras. Bagian depan teras menjorok dan badan candi terletak di bagian teras ke tiga. Atap dan sebagian badan candi telah terbuka. Secara pasti bentuk atap belum diketahui, namun ada dugaan bahwa bentuk atap Candi Jago menyerupai Meru atau Pagoda.
Pada dinding luar kaki candi dipahatkan relief-relief cerita Kresnayana, Parthayana, Arjunawiwaha, Kunjarakharna, Anglingdharma, serta cerita fabel. Untuk mengikuti urutan cerita relief Candi Jago kita berjalan mengelilingi candi searah putaran jarum jam (pradaksiana).
Pada sudut kiri candi (barat laut) terlukis awal cerita binatang seperti halnya cerita Tantri. Cerita ini terdiri dari beberapa panel.
Sedangkan pada dinding depan candi terdapat fabel, yaitu kura-kura. Ada dua kura-kura yang diterbangkan oleh seekor angsa dengan cara kura-kura tadi menggigit setangkai kayu. Di tengah perjalanan kura-kura ditertawakan oleh segerombolan serigala. Mereka mendengar dan kura-kura membalas dengan kata-kata (berucap), sehingga terbukalah mulutnya. Ia terjatuh karena terlepas dari gigitan kayunya. Kura-kura menjadi makanan serigala. Maknanya kurang lebih memberikan nasihat, janganlah mundur dalam usaha atau pekerjaan hanya karena hinaan orang.
Pada sudut timur laut terdapat rangkaian cerita Buddha yang meriwayatkan Yaksa Kunjarakarna. Ia pergi kepada dewa tertinggi, yaitu Sang Wairocana untuk mempelajari ajaran Buddha.Salah satu patung yang awalnya terdapat pada Candi Jago, yang merupakan perlambangan Dewi Bhrkuti
Beberapa hiasan dan relief pada kaki candi berupa cerita Kunjarakarna. Cerita ini bersifat dedaktif dalam kepercayaan Buddha, antara lain dikisahkan tentang raksasa Kunjarakarna ingin menjelma menjadi manusia.Ia menghadap Wairocana dan menyampaikan maksudnya. Setelah diberi nasihat dan patuh pada ajaran Buddha, akhirnya keinginan raksasa terkabul.
Pada teras ketiga terdapat cerita Arjunawiwaha yang meriwayatkan perkawinan Arjuna dengan Dewi Suprabha sebagai hadiah dari Bhatara Guru setelah Arjuna mengalahkan raksasa Niwatakawaca.
Hiasan pada badan Candi Jago tidak sebanyak pada kakinya. Yang terlihat pada badan adalah relief adegan Kalayawana, yang ada hubungannya dengan cerita Kresnayana.Relief ini berkisah tentang peperangan antara raja Kalayawana dengan Kresna. Sedangkan pada bagian atap candi yang dikirakan dulu dibuat dari atap kayu/ijuk, sekarang sudah tidak ada bekasnya.
Candi ini mula-mula didirikan atas perintah raja Kertanagara untuk menghormati ayahandanya, raja Wisnuwardhana, yang mangkat pada tahun 1268. Dan kemudian Adityawarman mendirikan candi tambahan dan menempatkan Arca Manjusri.
Diambil dari berbagai sumber
Berlokasi di Kecamatan Tumpang, Kabupaten wisata Malang, atau sekitar 22 km dari Kota wisata Malang.Untuk menuju ke sana anda dapat menggunakan kendaraan dari Arjosari dengan menggunakan mobil angkutan jurusan Tumpang-Arjosari [TA].
Menurut cerita bagian atap dari Candi ini pernah tersambar petir,ini membuat candi ini kelihatan unik.
Di candi ini anda dapat menemui Relief-relief Kunjarakarna dan Pancatantra . Dengan keseluruhan bangunan candi ini tersusun atas bahan batu andesit. Pada candi inilah Adityawarman kemudian menempatkan Arca Manjusri seperti yang disebut pada Prasasti Manjusri. Tetapi Sekarang Arca ini tersimpan di Museum Nasional dengan nomor
Arsitektur Candi Jago disusun seperti teras punden berundak. Keseluruhannya memiliki panjang 23,71 m, lebar 14 m, dan tinggi 9,97 m. Bangunan Candi Jago nampak sudah tidak utuh lagi; yang tertinggal pada Candi Jago hanyalah bagian kaki dan sebagian kecil badan candi.
Badan candi disangga oleh tiga buah teras. Bagian depan teras menjorok dan badan candi terletak di bagian teras ke tiga. Atap dan sebagian badan candi telah terbuka. Secara pasti bentuk atap belum diketahui, namun ada dugaan bahwa bentuk atap Candi Jago menyerupai Meru atau Pagoda.
Pada dinding luar kaki candi dipahatkan relief-relief cerita Kresnayana, Parthayana, Arjunawiwaha, Kunjarakharna, Anglingdharma, serta cerita fabel. Untuk mengikuti urutan cerita relief Candi Jago kita berjalan mengelilingi candi searah putaran jarum jam (pradaksiana).
Pada sudut kiri candi (barat laut) terlukis awal cerita binatang seperti halnya cerita Tantri. Cerita ini terdiri dari beberapa panel.
Sedangkan pada dinding depan candi terdapat fabel, yaitu kura-kura. Ada dua kura-kura yang diterbangkan oleh seekor angsa dengan cara kura-kura tadi menggigit setangkai kayu. Di tengah perjalanan kura-kura ditertawakan oleh segerombolan serigala. Mereka mendengar dan kura-kura membalas dengan kata-kata (berucap), sehingga terbukalah mulutnya. Ia terjatuh karena terlepas dari gigitan kayunya. Kura-kura menjadi makanan serigala. Maknanya kurang lebih memberikan nasihat, janganlah mundur dalam usaha atau pekerjaan hanya karena hinaan orang.
Pada sudut timur laut terdapat rangkaian cerita Buddha yang meriwayatkan Yaksa Kunjarakarna. Ia pergi kepada dewa tertinggi, yaitu Sang Wairocana untuk mempelajari ajaran Buddha.Salah satu patung yang awalnya terdapat pada Candi Jago, yang merupakan perlambangan Dewi Bhrkuti
Beberapa hiasan dan relief pada kaki candi berupa cerita Kunjarakarna. Cerita ini bersifat dedaktif dalam kepercayaan Buddha, antara lain dikisahkan tentang raksasa Kunjarakarna ingin menjelma menjadi manusia.Ia menghadap Wairocana dan menyampaikan maksudnya. Setelah diberi nasihat dan patuh pada ajaran Buddha, akhirnya keinginan raksasa terkabul.
Pada teras ketiga terdapat cerita Arjunawiwaha yang meriwayatkan perkawinan Arjuna dengan Dewi Suprabha sebagai hadiah dari Bhatara Guru setelah Arjuna mengalahkan raksasa Niwatakawaca.
Hiasan pada badan Candi Jago tidak sebanyak pada kakinya. Yang terlihat pada badan adalah relief adegan Kalayawana, yang ada hubungannya dengan cerita Kresnayana.Relief ini berkisah tentang peperangan antara raja Kalayawana dengan Kresna. Sedangkan pada bagian atap candi yang dikirakan dulu dibuat dari atap kayu/ijuk, sekarang sudah tidak ada bekasnya.
Candi ini mula-mula didirikan atas perintah raja Kertanagara untuk menghormati ayahandanya, raja Wisnuwardhana, yang mangkat pada tahun 1268. Dan kemudian Adityawarman mendirikan candi tambahan dan menempatkan Arca Manjusri.
Diambil dari berbagai sumber
Posted by
scoot
Sunday, January 16
Sejarah Malang
Kota Malang terletak di sebelah timur pulau jawa.tepat nya 90km sebelah selatan Ibukota Provinsi Surabaya
Sampai saat ini asal-usul nama kota Malang masih di selidiki oleh para ahli sejarah.
Dari sumber-sumber yang ada, saat ini telah di peroleh beberapa hipotesa mengenai asal-usul nama “Malang
”
Lambang kota malang yang bertuliskan MALANGKUCECWARA, merupakan salah satu nama bangunan suci yang di temukan dalam bentuk dua prasasti raja balilitung dari Jawa tengah,yakni prasasti mantyasih tahun 907 dan tahun 908.yang ditemukan diantara Surabaya-Malang.
Akan tetapi sampai sekarang letak sesungguhnya bangunan suci Malangkucecwara masih belum pasti.Satu pihak ada yang mengatakan di daerah Buring,karena disana terdapat pegunungan yang Puncaknya bernama Malang.Pihak lain mengatakan terdapat di sebuah kota disebelah Timur kota malang yaitu Tumpang.karena disana terdapat desa Malangsuka yang diduga berasal dari kata malangkuca.Yang diperkuat dengan banyaknya peninggalan sejarah seperti candi Jago dan candi Kidal yang keduanya adalah peninggalan kerajaan Singasari.
Dari kedua hipotesa tersebut di atas masih juga belum dapat dipastikan manakah kiranya yang terdahulu dikenal dengan nama Malang yang berasal dari nama bangunan suci Malangkucecwara itu.
Sebuah prasasti tembaga yang ditemukan akhir tahun 1974 di perkebunan Bantaran, Wlingi, sebelah barat daya Malang, dalam satu bagiannya tertulis sebagai berikut : “………… taning sakrid Malang-akalihan wacid lawan macu pasabhanira dyah Limpa Makanagran I ………”. Arti dari kalimat tersebut di atas adalah : “ …….. di sebelah timur tempat berburu sekitar Malang bersama wacid dan mancu, persawahan Dyah Limpa yaitu ………” Dari bunyi prasasti itu ternyata Malang merupakan satu tempat di sebelah timur dari tempat-tempat yang tersebut dalam prasasti itu.
Dari prasasti inilah diperoleh satu bukti bahwa pemakaian nama Malang telah ada paling tidak sejak abad 12 Masehi.
Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya, Kota Malang modern tumbuh dan berkembang setelah hadirnya administrasi kolonial Hindia Belanda.Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda. Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang, misalnya [[Ijen Boullevard]] dan kawasan sekitarnya.
Pada mulanya hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai. Kawasan perumahan itu sekarang menjadi monumen hidup dan seringkali dikunjungi oleh keturunan keluarga-keluarga Belanda yang pernah bermukim di sana.
Pada masa penjajahan kolonial Hindia Belanda, daerah Malang dijadikan wilayah "Gemente" (Kota). Sebelum tahun 1964, dalam lambang kota Malang terdapat tulisan ; “Malang namaku, maju tujuanku” terjemahan dari “Malang nominor, sursum moveor”. Ketika kota ini merayakan hari ulang tahunnya yang ke-50 pada tanggal 1 April 1964, kalimat-kalimat tersebut berubah menjadi : “Malangkucecwara”.
Semboyan baru ini diusulkan oleh almarhum Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka, karena kata tersebut sangat erat hubungannya dengan asal-usul kota Malang yang pada masa Ken Arok kira-kira 7 abad yang lampau telah menjadi nama dari tempat di sekitar atau dekat candi yang bernama Malangkucecwara.Kota malang mulai tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Belanda, terutama ketika mulai di operasikannya jalur kereta api pada tahun 1879. Berbagai kebutuhan masyarakatpun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.
* Tahun 1767 Kompeni Hindia Belanda memasuki Kota
* Tahun 1821 kedudukan Pemerintah Belanda di pusatkan di sekitar kali Brantas
* Tahun 1824 Malang mempunyai Asisten Residen
* Tahun 1882 rumah-rumah di bagian barat Kota di dirikan dan Kota didirikan alun-alun di bangun.
* 1 April 1914 Malang di tetapkan sebagai Kotapraja
* 8 Maret 1942 Malang diduduki Jepang
* 21 September 1945 Malang masuk Wilayah Republik Indonesia
* 22 Juli 1947 Malang diduduki Belanda
* 2 Maret 1947 Pemerintah Republik Indonesia kembali memasuki Kota Malang.
Di ambil dari berbagai sumber
Posted by
scoot
Subscribe to:
Posts (Atom)











