Showing posts with label Wisata Alam. Show all posts
Showing posts with label Wisata Alam. Show all posts

Wednesday, June 15

Coban Trisula

Coban trisula terletak di desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo. tempat wisata ini memang belum setenar coban pelangi ataupun coban lain yang berada di daerah sekitar Poncokusumo. Maklum lah tempat wiata ini memang baru aja di resmikan.
.
Untuk mencapai ke Coban trisula, bisa di tempuh dngan menggunakan sepeda motor, sekitar 1 jam dari arah pasar tumpang.apabila anda menggunakan jasa ankutan umum,Dari arah Arjosari anda bisa menggunakan mikrolet jurusan TA (Tumpang-Arjosari) dan turun ke terminal tumpang. Dari arah Tumpang Anda bisa menggunakan mikrolet yang menuju arag gubuklakah, setelah itu dilanjutkan dngan naik ojek ke arah coban trisula.

Air terjun coban trisula jatuh tiga tingkat mengikuti arus sungai lajing,mungkin inilah yang menakibatkan coban tersebut dinamakan coban trisula. kebanyakan pengunjung menggunakan coban Trisula untuk tempat istirahat atau peringgahan pendaki yang pulang dari gunung Bromo. pengunjung biasanya mulai berdatangan pada akhir pekan, terlebih lagi menjelang pelaksanaan upacara Kasodoan (sedekah gunung) dan libur panjang.

selain dari kota Malang, coban trisula dapat dilalui dari arah kota Pasuruan Lumajang ataupun Probolinggo. Tarif masuk ke Coban trisula dilihat dari Status kewarganegaraan. untuk turis Asing biasa dikenakan sekitar 2 dolar dan untuk pengunjung Lokal dikenakan biaya sebesar Rp3500. Akan tetapi bagi pelajar kita akan mendapatkan potongan harga sekitar 50% dengan menunjukkan kartu pelajar.

Pemandangan yang indah dan ekotis seta jalur yang rindang dan berkelok-kelok membuat wisatawan merasa nyaman, Konsep kembali ke alam yang ditawarkan objek wisata Coban Trisula, membuat pengunjung betah berlama-lama di tempat tersebut.


saat tiba di pos tempat pembelian karcis, pengunjung tidak langsung dapat menikmati indahnya Coban Trisula secara langsung,seperti di Coban ROndo. jalan setapak dan berliku-liku melewati hutan sudah siap menunggu dan tentunya hal itu mampu memompa semangat dan adrenalin. Perjalanan sekitar 15 menit menapaki jalan yang licin sepanjang 600 meter dan dikelilingi jurang, mutlak membutuhkan stamina yang tidak sedikit. Setelah setapak demi setapak menusuri jalanan licin dan berlumut, gemericik air yang jatuh dari ketinggian dengan segera mampu mengusir rasa letih akibat perjalanan jauh dan menantang.

Saat pengunjung sampai di lokasi.yang kita lihat adalah air terjun kedua yang mempunyai tiga kolam besar yang menampung aliran air dari Sungai Lajing. Air terjun kedua itu hanya setinggi 2,5 meter, namun pesona keindahan yang menyelimutinya membuat wiatawan merasa kagum atas keindahan coban trisula. Untuk bisa melihat air terjun utama, pengunjung harus mendaki bukit kecil yang ditumbuhi pepohonan tropis dengan akar-akarnya yang dapat dijadikan pegangan. Air terjun utama setinggi 35 meter tersebut tampak megah dan anggun, memecah aliran sungai menjadi butiran-butiran putih yang menyejukkan dan tertiup angin menerpa wajah pengunjung. Berbeda dengan air terjun pertama dan kedua, air terjun ketiga lebih tersembunyi letaknya, untuk mencapainya kita harus kembali menuruni bebatuan licin dan terjal, keindahan yang ditawarkan juga tak kalah menarik. Air terjun ketiga itu hanya setinggi 11 meter, namun demikian keindahannya tetap terpancar dari buih-buih yang mengalir dibawahnya.

selain Air terjun,Coban trisula juga menawarkan keindahan flora yang cukup indah.tanaman seperti pakis, anggrek dan tumbuhan epifit lain nya,menjadikan banyak peneliti yang datang untuk berkunjung ke Coban ini.
tidak ada salah nya anda datang ke coban ini.anda bisa merasakan indahnya coban tak seperti yang anda lihat sebelumnya.

Monday, April 25

Cangar



Cangar, jaraknya sekitar 18 km dari kota Batu. Sepanjang perjalanan aku memperhatikan banyak sekali titik-titik yang sangat indah selama perjalanan menuju lokasi dari arah kota batu, kita akan memasuki Desa Punten, yang terkenal dengan desa sejuta bunga, karena sepanjang perjalanan, maupun hampir seluruh penduduknya menanam bunga, baik untuk di jual maupun untuk dinikmati sendiri. kita akan melihat hamparan bunga berbagai macam jenis dan spesies.

Setelah itu kita akan memasuki perkebunan apel yang banyak bertebaran di sebelah kanan dan kiri jalan yang kita lewati. dan banyak juga para pedagang apel yang menjajakan apel segar yang baru saja di petik, bila panen raya tiba, harga apel disini bisa kita tawar dengan sedikit lebih rendah dari harga biasanya.

Setelah kita melewati kebun apel dan pemukiman penduduknya, kita akan mulai memasuki perjalanan yang lebih menyenangkan. Jalannya meliuk-liuk seperti ular. Kita akan melihat hamparan perkebunan sayur mayur yang terdapat hampir di sepanjang sisa perjalanan menuju cangar, suasana jadi lebih indah lagi karena latar belakang perbukitan yang hijau, udara yang sangat sejuk dan hamparan hijau sayuran ditambah sedikit2 bunga liar yang banyak tumbuh di sebalah sisi jalan.


Selain itu, kita akan menemui banyak Green House budidaya Jamur dari yang kelas home industri hingga skala industri besar. Konon, jamur-jamur ini di ekspor ke luar negeri.

Setelah perjalanan mencapai titik tertinggi, jalanan akan menurun tajam hingga 45 derajat dengan tikungan berbentuk U sebanyak 5 kali. Dan kita mulai masuk ke lokasi wisata Cangar. Harga tiket masuknya murah banget, hanya Rp. 3.000,-/orang. Tapi, khusus wisatawan asing harga tiketnya Rp. 20.000,-

Letak kolamnya sekitar 100 m dari loket. Jalan setapak yang menurun menuju lokasi berupa anak tangga yang cukup lebar namun curam. Perjalanan menuju lokasi, kita akan memasuki hutan yang sangat lebat. Suara khas binatang hutan akan mengiringi perjalan anda. Udara di sini sangat sejuk, dingin.. namun sangat menyegarkan.

Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/health-care-management/1944947-cangar/#ixzz1KWk33zMx

Saturday, January 29

Pantai Ngliyep





Wisata pantai ngliyep sangat terkenal dengan ganasnya gelombang ombak, ditambah lagi dengan hawa yang sangat sejuk, sehingga banyak wisatawan nusantara maupun mancanegara yang datang mengunjunginya.
Dipantai ini terdapat keunikan yaitu pusaran air yang berputar-putar tak menentu, dan membentuk sebuah keanehan, sehingga ombak yang menghampirinya pun akan hilang dengan sendirinya. Pantai ini sangat lebar dan panjang sehingga pengunjung dapat bersantai dengan leluasa.



Keunikan lain adalah setiap tahunnya pada tanggal 12 maulud (bulan jawa), terdapat atraksi wisata yang merupakan acara khas tradisional yaitu upacara labuhan atau sedekah laut. Yang dilakukan oleh masyarakat kedungsalam dengan membawa sesaji beraneka ragam dan diiringi dengan reog dan jaranan serta diikuti para pengawal dengan menggunaka pakaian adat.
Wisata pantai ngliyep terletak didesa kedungsalam kecamatan donomulyo kabupaten malang. Sekitar 65 KM dari kota malang. 10 ha pantai ngliyep juga merupakan kawasan hutan lindung yang dilindungi oleh pemerintah.

Saturday, January 22

Gunung Arjuna



Gunung Arjuno terletak di kota wisata Malang, Jawa Timur, dengan ketinggian 3.339 m dpl. Biasanya gunung ini dicapai dari tiga titik pendakian yang cukup dikenal yaitu dari Lawang, Tretes dan Batu.

Letak Gunung Arjuno bersebelahan dengan Gunung Welirang. Puncak Gunung Arjuno terletak pada satu punggungan yang sama dengan puncak gunung Welirang. Selain dari dua tempat diatas Gunung Arjuno dapat didaki dari berbagai arah yang lain. Gunung yang terletak di sebelah barat Batu,wisata Malang - Jawa Timur ini juga merupakan salah satu tujuan pendakian. Disamping tingginya yang telah mencapai lebih dari 3000 meter, di gunung ini terdapat beberapa objek wisata. Salah satunya adalah objek wisata air terjun Kakek Bodo yang juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Arjuna. Meskipun selain objek wisata air terjun Kakek Bodo terdapat pula air terjun lain, tetapi para wisatawan jarang yang mendatangi air terjun lainnya, mungkin karena letak dan sarana wisatanya kurang mendukung.

Gunung Arjuno mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Gunung Arjuno dapat didaki dan berbagai arah, arah Utara (Tretes) melalui Gunung Welirang,dan arah Timur (Lawang) dan dari arah Barat (Batu-Selecta), dan arah selatan (Karangploso), juga dari kecamatan Singosari melalui desa Sumberawan. Desa Sumberawan adalah desa pusat kerajinan tangan di kecamatan Singosari merupakan desa terakhir untuk mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian.

Wednesday, January 19

Candi Kidal 2



Anusapati - Sang Garuda Yang Berbakti

Bathara Anusapati menjadi raja
Selama pemerintahannya tanah Jawa kokoh sentosa
Tahun caka Perhiasan Gunung Sambu (1170 C - 1248 M) beliau berpulang ke Siwabudaloka
Cahaya beliau diwujudkan arca Siwa gemilang di candi Kidal

(Nagarakretagama : pupuh 41 / bait 1, Slamet Mulyono)

Demikianlah penggalan kitab Negarakretagama, sebuah kakawin kaya raya informasi tentang kerajaan Majapahit dan Singosari, berkaitan dengan raja Singosari ke-2, Anusapati, beserta tempat pendharmaannya di candi Kidal.

Dirunut dari usianya, Candi Kidal merupakan candi tertua dari peninggalan candi-candi periode Jawa Timur pasca Jawa Tengah (abad ke-5 – 10 M). Hal ini karena periode Mpu Sindok (abad X M), Airlangga (abad XI M) dan Kediri (abad XII M) sebelumnya tidak meninggalkan sebuah candi, kecuali Candi Belahan (Gempol) dan Jolotundo (Trawas) yang sesungguhnya bukan merupakan candi melainkan petirtaan. Sesungguhnya ada candi yang lebih tua yakni Candi Kagenengan yang menurut versi kitab Nagarakretagama tempat di-dharma-kannya, Ken Arok, ayah tiri Anusapati. Namun sayang candi ini sampai sekarang belum pernah ditemukan.

Pada bagian kaki candi terpahatkan 3 buah relief indah yang menggambarkan cerita legenda Garudeya (Garuda). Cerita ini sangat popular dikalangan masyarakat Jawa saat itu sebagai cerita moral tentang pembebasan atau ruwatan Kesusastraan Jawa kuno berbentuk kakawin tersebut, mengisahkan tentang perjalanan Garuda dalam membebaskan ibunya dari perbudakan dengan penebusan air suci amerta.

Cerita ini juga ada pada candi Jawa Timur yang lain yakni di candi Sukuh (lereng utara G. Lawu). Cerita Garuda sangat dikenal masyarakat pada waktu berkembang pesat agama Hindu aliran Waisnawa (Wisnu) terutama pada periode kerajaan Kahuripan dan Kediri. Sampai-sampai Airlangga, raja Kahuripan, setelah meninggal diujudkan sebagai dewa Wisnu pada candi Belahan dan Jolotundo, dan patung Wisnu diatas Garuda paling indah sekarang masih tersiumpan di museum Trowulan dan diduga berasal dari candi Belahan.

Narasi cerita Garudeya pada candi Kidal dipahatkan dalam 3 relief dan masing-masing terletak pada bagian tengah sisi-sisi kaki candi kecuali pintu masuk. Pembacaannya dengan cara prasawiya (berjalan berlawanan arah jarum jam) dimulai dari sisi sebelah selatan atau sisi sebelah kanan tangga masuk candi. Relief pertama menggambarkan Garuda dibawah 3 ekor ular, relief kedua melukiskan Garuda dengan kendi diatas kepalanya, dan relief ketiga Garuda menggendong seorang wanita. Diantara ketiga relief tersebut, relief kedua adalah yang paling indah dan masih utuh.

Dikisahkan bahwa Kadru dan Winata adalah 2 bersaudara istri resi Kasiapa. Kadru mempunyai anak angkat 3 ekor ular dan Winata memiliki anak angkat Garuda. Kadru yang pemalas merasa bosan dan lelah harus mengurusi 3 anak angkatnya yang nakal-nakal karena sering menghilang diantara semak-semak. Timbullah niat jahat Kadru untuk menyerahkan tugas ini kepada Winata. Diajaklah Winata bertaruh pada ekor kuda putih Uraiswara yang sering melewati rumah mereka dan yang kalah harus menurut segala perintah pemenang. Dengan tipu daya, akhirnya Kadru berhasil menjadi pemenang. Sejak saat itu Winata diperintahkan melayani segala keperluan Kadru serta mengasuh ketiga ular anaknya setiap hari. Winata selanjutnya meminta pertolongan Garuda untuk membantu tugas-tugas tersebut. (relief pertama).


Ketika Garuda tumbuh besar, dia bertanya kepada ibunya mengapa dia dan ibunya harus menjaga 3 saudara angkatnya sedangkan bibinya tidak. Setelah diceritakan tentang pertaruhan kuda Uraiswara, maka Garuda mengerti. Suatu hari ditanyakanlah kepada 3 ekor ular tersebut bagaimana caranya supaya ibunya dapat terbebas dari perbudakan ini. Dijawab oleh ular "bawakanlah aku air suci amerta yang disimpan di kahyangan serta dijaga para dewa, dan berasal dari lautan susu". Garuda menyanggupi dan segera mohon ijin ibunya untuk berangkat ke kahyangan. Tentu saja para dewa tidak menyetujui keinginan Garuda sehingga terjadilah perkelahian. Namun berkat kesaktian Garuda para dewa dapat dikalahkan. Melihat kekacauan ini Bathara Wisnu turun tangan dan Garuda akhirnya dapat dikalahkan. Setelah mendengar cerita Garuda tentang tujuannya mendapatkan amerta, maka Wisnu memperbolehkan Garuda meminjam amerta untuk membebaskan ibunya dan dengan syarat Garuda juga harus mau menjadi tungganggannya. Garuda menyetujuinya. Sejak saat itu pula Garuda menjadi tunggangan Bathara Wisnu seperti nampak pada patung-patung Wisnu yang umumnya duduk diatas Garuda. Garuda turun kembali ke bumi dengan amerta. (relief kedua).

Dengan bekal air suci amerta inilah akhirnya Garuda dapat membebaskan ibunya dari perbudakan atas Kadru. Hal ini digambarkan pada relief ketiga dimana Garuda dengan gagah perkasa menggendong ibunya dan bebas dari perbudakan. (relief ketiga)


Berbeda dengan candi-candi Jawa Tengah, candi Jawa Timuran berfungsi sebagai tempat pen-dharma-an (kuburan) raja, sedangkan candi-candi Jawa Tengah dibangun untuk memuliakan agama yang dianut raja beserta masyarakatnya. Seperti dijelaskan dalam kitab Negarakretagama bahwa raja Wisnuwardhana didharmakan di candi Jago, Kertanegara di candi Jawi dan Singosari, Hayam Wuruk di candi Ngetos, dsb.

Dalam filosofi Jawa asli, candi juga berfungsi sebagai tempat ruwatan raja yang telah meninggal supaya kembali suci dan dapat menitis kembali menjadi dewa. Ide ini berkaitan erat dengan konsep "Dewa-Raja" yang berkembang kuat di Jawa saat itu. Dan untuk menguatkan prinsip ruwatan tersebut sering dipahatkan relief-relief cerita moral dan legenda pada kaki candi, seperti pada candi Jago, Surowono, Tigowangi, Jawi, dan lain lain. Berkaitan dengan prinsip tersebut, dan sesuai dengan kitab Negarakretagama, maka candi Kidal merupakan tempat diruwatnya raja Anusapati dan dimuliakan sebagai Siwa. Sebuah patung Siwa yang indah dan sekarang masih tersimpan di museum Leiden - Belanda diduga kuat berasal dari candi Kidal. Sebuah pertanyaan, mengapa dipahatkan relief Garudeya? Apa hubungannya dengan Anusapati?.

Kemungkinan besar sebelum meninggal, Anusapati berpesan kepada keluarganya agar kelak candi yang didirikan untuknya supaya dibuatkan relief Garudeya. Dia sengaja berpesan demikian karena bertujuan meruwat ibunya, Kendedes, yang sangat dicintainya, namun selalu menderita selama hidupnya dan belum sepenuhnya menjadi wanita utama.


Dalam prasasti Mula Malurung, dikisahkan bahwa Kendedes adalah putri Mpu Purwa dari pedepokan di daerah Kepanjen Malang yang cantik jelita tiada tara. Kecantikan Ken Dedes begitu tersohor hingga akuwu Tunggul Ametung, terpaksa menggunakan kekerasan untuk dapat menjadikan dia sebagai istrinya prameswari. Setelah menjadi istri Tunggul Ametung, ternyata Ken Dedes juga menjadi penyebab kematian suaminya yang sekaligus ayah Anusapati karena dibunuh oleh Ken Arok, ayah tirinya.

Hal ini terjadi karena Ken Arok, yang secara tak sengaja ditaman Boboji kerajaan Tumapel melihat mengeluarkan sinar kemilau keluar dari aurat Kendedes. Setelah diberitahu oleh pendeta Lohgawe, bahwa wanita mana saja yang mengeluarkan sinar demikian adalah wanita ardanareswari, yakni wanita yang mampu melahirkan raja-raja besar di Jawa. Sesuai dengan ambisi Ken Arok maka diapun membunuh Tunggul Ametung serta memaksa kawin dengan Kendedes. Sementara itu setelah mengawini Kendedes, Ken Arok masih juga mengawini Ken Umang dan menurut cerita tutur Ken Arok lebih menyayangi istri keduanya dari pada Ken Dedes; Sehingga Ken Dedes diabaikan.

Berlandaskan uraian diatas, maka pemberian relief Garudeya pada candi Kidal oleh Anusapati bertujuan untuk meruwat ibunya Ken Dedes yang cantik jelita namun nestapa hidupnya. Anusapati sangat berbakti dan mencintai ibunya. Dia ingin ibunya menjadi suci kembali sebagai wanita sempurna lepas dari penderitaan dan nestapa.

Diambil dari berbagai sumber

Monday, January 17

Gunung Bromo

Gunung Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang.

Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.



Untuk menuju ke Gunung Bromo, anda dapat melewati jalur dari Probolinggo atau dari wisata Malang.kedua jalur tersebut menyuguhkan keindahan alam yang berbeda-beda.

Apabila anda lewat jalur wisata Malang,dari Arjosari anda dapat naik angkot jurusan Tumpang-Arjosari dan turun di pasar Tumpang.lalu anda bias menyewa mobil jeep yang banyak mangkal di sekitar situ.


Gunung Bromo berasal dari bahasa Sansekerta/Jawa Kuna: Brahma, salah seorang Dewa Utama Hindu.
Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif.




Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah selebar ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.


Bagi penduduk Bromo, suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo.

Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Diambil dari berbagai sumber